Tampilkan postingan dengan label ulasan film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ulasan film. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 April 2019

Teknologi CGI dan Proses Pembuatan THANOS


Guys.. udah lihat Avengers:Endgame yang lagi rame di bioskop sekarang?
Atau kalo belum, pasti pernah lihat lah ya film2 blockbuster lain, yang dulu-dulu..
Sungguh mengagumkan ya, menyaksikan kemajuan teknologi animasi. Membuat visualisasi sedemikian indahnya atas apapun, yang dulu cuma ada di alam fantasi manusia.
Robot-robot raksasa yang bisa bergerak dan berbicara layaknya manusia, dinosaurus yang seolah sudah bangkit dari kepunahannya, para superhero yang bisa terbang dengan segala kedigdayaannya, dsb..
Kali ini kami coba sedikit bahas mengenai teknologi CGI atau Computer Generated Imagery.
Makanan apaan sih CGI?
Ya itu, teknologi yang dipakai untuk membuat keajaiban visual itu adalah CGI.
Singkatnya, CGI adalah penerapan grafis komputer dalam pembuatan berbagai bentuk seni visual. Bisa film, video game, iklan, acara televisi dsb.
Seringnya CGI merujuk kepada pembuatan adegan atau efek khusus dalam film atau acara televisi dalam bentuk 3 dimensi, walaupun CGI juga bisa dalam bentuk 2 dimensi.

Awal penggunaan dan perkembangannya
Animasi komputer dalam film dimulai pada 1970-an ketika efek visual dan animasi pendek dibuat menggunakan layering gambar 2D.
Pada tahun 1972 pendiri Pixar, Ed Catmull dan Fred Park, menciptakan prototipe pertama dari tangan 3D yang dibuat secara digital. Mereka menunjukkan hal tersebut dalam sebuah film pendek berjudul ‘A Computer Animated Hand’. Teknologi yang digunakan untuk membuat animasi tersebut menjadi dasar penting dalam perkembangan animasi komputer.

Pada tahun 1993 kita menyaksikan momen ajaib dalam sejarah film yang dihasilkan komputer, yaitu dengan penayangan film yang betul2 menampilkan dinosaurus persis seperti aslinya. Jurassic Park adalah film CGI 'bertekstur fisik' pertama, yang berarti dinosaurus itu tampil sangat realistis di layar.

Tim dari rumah produksi visual effect ILM mulai dengan menggambar desain dan prosthetics dari dinosaurus sebelum memindai mereka ke komputer. Perangkat lunak animasi digunakan untuk menunjukkan dan memanipulasi gerakan tangan dan kaki sebelum tekstur kulit dinosaurus dilukis/digambar. Setelah gambar terpisah ini disatukan, barulah dinosaurus ini ditempatkan dalam sebuah adegan dan dikombinasikan dengan aksi-aksi live dari para pemerannya.


Sampai akhir 1990-an CGI digunakan tidak dalam porsi penuh, maksudnya hanya dipakai untuk melengkapi sebuah film live action. Tetapi pada tahun 1995 Toy Story menjadi film pertama yang menggunakan CGI sepenuhnya. Dengan hanya tim kecil animator, semua karakter mainan seolah menjadi hidup kembali. Pixar mengikuti proyek terobosan ini dengan film-film seperti Monsters Inc., Finding Nemo, dll

CGI yang menciptakan adegan dari sejarah.
CGI kemudian digunakan lebih luas lagi untuk membuat film-film berlatar sejarah, menghidupkan kembali peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa lampau lengkap dengan ciri khas zamannya. Seperti di film Pearl Harbor pada 2001 dimana ditampilkan serangan Jepang di pangkalan angkatan laut AS dengan begitu realistiknya.

Motion capture.
Awal tahun 2000an CGI berkembang lebih pesat lagi dengan penggunaan teknik motion capture, yaitu teknik yang digunakan untuk merekam gerakan yang dilakukan oleh benda atau orang. Bisa gerakan fisik maupun ekspresi wajah. Karakter pertama yang dikreasikan dengan motion capture ini adalah Gollum, dalam film Peter Jackson tahun 2001, Lord of the Rings.

Selanjutnya film-film memorable untuk penggunaan CGI antara lain Avatar, Life of Pi, franchise Transformers, film-film superhero DC maupun Marvel. Hingga sekarang teknologi CGI masih dan akan terus berkembang seiring perkembangan teknologi komputer.

Bagaimana proses pembuatan CGI ini?
CGI di kreasikan oleh para ahli efek khusus, menggunakan beragam software seperti Autodesk Maya, Autodesk 3DS Max, Houdini, Blender, zBrush, dsb.

Untuk membuat karakter Thanos, pertama dilakukan dengan menggambarnya dan ‘membentuknya’ (ibarat seorang pematung membentuk patung dengan tanah liat) di software zBrush, hingga didapatlah model 3 dimensi sosok Thanos. Detail tekstur kemudian ditambahkan. Mulai dari kerutan, kekasaran, dst. Sehingga didapatlah hasil yang sangat mirip dengan sosok manusia.

Sementara itu Josh Brolin sang pemeran Thanos akan dipakaikan kostum khusus yang disebut motion capture bodysuit, dimana di kostum tersebut sudah diberi penanda-penanda untuk keperluan tracking atau pelacakan gerakan oleh komputer.
Lalu dia juga akan mengenakan helm dengan dua kamera HD yang disusun secara vertikal. Kamera2 tersebut akan menangkap gambar pada 60 frame per detik. Wajah Josh juga akan diberi titk-titik hitam sebagai penanda tracking.

Dengan mengenakan pakaian dan helm tersebutlah Josh akan beradu akting dengan para pemeran yang lain. Disebabkan tubuh Thanos yang digambarkan cukup jauh melebihi tinggi badan pemeran lainnya (kecuali Hulk), maka sebagai panduan bagi para lawan mainnya saat berdialog, di punggung Josh ditempatkan tongkat yang panjang. Jadi saat berbicara dengan Thanos, para aktor bisa menatap ujung atas tongkat tersebut.

Setelah proses motion capture selesai, hasilnya lalu digabungkan/dimasukkan ke model 3D tadi. Hasilnya lalu disempurnakan di tahap pasca produksi.

Biaya Produksi CGI
Eksekutif Sony Pictures, Penny Finkelman Cox mengatakan bahwa dibutuhkan 400 pekerja visual (yang bekerja) selama empat tahun untuk membawa (film) 2D ke bioskop. Sedangkan dengan CGI hanya membutuhkan setengah dari jumlah itu dan hanya membutuhkan tiga tahun untuk membuat film tersebut. Hasilnya, film digital umumnya memakan biaya sampai sebesar $80 juta, sedangkan film animasi tradisional dibutuhkan $150 juta. Lebih murah (tapi tetap saja biaya yang besar ya)
Dua hal yang membuat CGI mahal ialah biaya untuk membayar para ahli efek visual yang jumlahnya banyak, lalu waktu pengerjaan yang tidak bisa sebentar. Butuh waktu yang lama untuk membuat efek visual komputer yang hebat. Kombinasi jumlah ahli dan waktu produksi yang lama itulah yang membuat biaya produksi film-film ber-CGI mahal. Menurut laporan Forbes, sebuah film dengan 150 hingga 250 efek visual dengan 1 efek visualnya berdurasi 5 detik, setiap 1 efeknya membutuhkan biaya antara $70 ribu hingga $100 ribu. Film Hollywood berjudul Pirates of the Caribbean: At World’s End misalnya, memakan biaya senilai $1 juta per menit untuk membiayai efek visual komputer.

Perangkat Kerja Yang DAHSYAT
Menurut informasi dari Dave Clayton, penasihat animasi rumah produksi efek visual Weta Digital, dibutuhkan teknologi “raksasa” untuk membuat efek CGI. Pada awal tahun 2000an saja, saat pembuatan LOTR: The Return of The King, untuk memproses (efek CGI) rumah produksinya membutuhkan sekitar 2.300 CPU (Central Processing Unit) dan RAM bertenaga 5 terabytes.
10an tahun kemudian saat memproduksi The Hobbit: Desolation of Smaug, dibutuhkan 50.000 CPU dan RAM 170 terabytes. Itu semua setara dengan gabungan dari 30.000 laptop standard.

Dahsyatnya nggak kira-kira ya..!

Jadi, jelas bahwa penggunaan teknologi CGI bukanlah hal yang murah. Namun, film-film Hollywood tetap memakai teknologi ini disebabkan hasilnya yang mengagumkan, sehingga pada akhirnya kesuksesan penjualan bisa tercapai. 

Untuk film-film Indonesia, sudah ada lho yang memakai teknologi CGI ini. Sebagian diantaranya adalah bangkit!, Comic 8: Casino Kings Part 1 (2015) dan Part 2 (2016), Rafathar the Movie (2017) sampai The Raid 1 (2011) dan 2 (2014). Tentu belum sebagus film-film Hollywood ya. Tapi maklum lah, secara bujet juga ibarat langit dan bumi. Jadi, tetap patut untuk diapresiasi..
Demikian pembahasan singkat seputar teknologi CGI.

Thanks for reading.. 🙏🙏

Minggu, 23 Desember 2018

Review Film BUMBLEBEE


Pasti inget kan sama adegan2 khas film2 Transformers ala sutradara Michael Bay ini?
Seneng ngeliatnya?
Kalau dalam porsi yang pas sih, seneng ya.
Tapi menurut saya, dan banyak juga yang sependapat, porsi adegan2 dahsyat penuh special effect tadi udah berlebihan sehingga jatuhnya malah bikin pusing.
Nah apakah di film Bumblebee yang adalah prekuel kisah Transformers ini, ada banyak adegan sejenis tadi? Bagusan mana sih film Bumblebee ini dengan Transformers?
Berikut ini review saya.. 

BUMBLEBEE..
Bagi kalian para pecinta franchise film Transformers pasti tahu ya karakter ini.
Sebuah robot berwarna kuning dari golongan Autobot pimpinan Optimus Prime. Karakternya baik tentu saja ya, cukup humoris dan punya sifat kemanusiaan yang tinggi.
Kita bisa melihat dari berkali-kali upayanya yang luar biasa dalam melindungi Sam Witwicky dan kekasihnya.

Nah, di akhir tahun 2018 ini Paramount Pictures mengangkat karakter Bumblebee ini menjadi sebuah film tersendiri. Kabar baik ya buat kalian para penggemar karakter ini. Bukan sebuah reboot, tapi sebuah spinoff dan prekuel. Spinoff tahu ya: jadi semacam pengembangan dari kisah sebelumnya yang berfokus pada salah satu karakter.
Sebuah prekuel juga, yaitu menceritakan awal mula dari peristiwa yang diceritakan dalam film2 Transformers yang sudah rilis sebelumnya. Jadi, menceritakan kejadian sebelum Bumblebee ini bertemu dengan karakter Sam Witwicky.

Sutradaranya Travis Knight, seorang sutradara nominator Oscar yang biasa menggarap film animasi stop motion. Jadi film ini adalah film live action pertama dari Travis. Michael Bay masih terlibat di film ini, yaitu sebagai produser.

CERITA
Pertama kali seperti biasa, yang saya bahas adalah ceritanya.
Kisah film Bumblebee ini terjadi pada tahun 1987 atau 20 tahun sebelum peristiwa film pertama Transformers terjadi.
Jadi ceritanya, kaum Autobots sedang dalam keadaan terdesak dalam peperangannya melawan Decepticons di planet asal mereka, Cybertron. Optimus Prime lalu mengutus Bumblebee atau nama aslinya B-127, ke bumi untuk mempersiapkan tempat atau base bagi para Autobot untuk bersatu kembali setelah pergi dari Cybertron.
Dalam perjalanannya ke bumi, bumblebee ini dihadang oleh robot Decepticons bernama Blitzwing.

Mereka bertarung hebat.
Bumblebee berhasil selamat dan mendarat ke bumi, tapi dalam keadaan rusak. Yang rusak adalah komponen suaranya serta memorinya.

Dalam keadaan rusak demikian, Bumblebee ini kemudian dikejar2 oleh pasukan Amerika yang salah mengira bahwa ia adalah robot jahat.
Bumblebee melarikan diri sambil merubah bentuknya menjadi Volkswagen Beetle atau yang biasa kita kenal sebagai VW kodok.
Jadi kebetulan ada sebuah VW tak jauh darinya saat melarikan diri, Bumblebee lalu menscan VW itu sehingga membuat dirinya bisa bertransformasi menjadi wujud mobil itu.

Sementara itu ada sosok seorang gadis remaja bernama Charlie Watson, seorang pecinta musik dan otomotif yang akan merayakan ulang tahun ke-18. Charlie ini sedang sedih akibat kehilangan sosok ayahnya dan sedang kurang akur dengan ibunya. Charlie ini mendapat sebuah mobil VW tua berdebu sebagai hadiah ulang tahunnya dari seorang teman, dimana kemudian ternyata VW ini bisa berubah menjadi sebuah robot, yang adalah Bumblebee tadi. Jadi rupanya Bumblebee tadi lari bersembunyi ke tempat ini. Sebuah tempat penjualan barang bekas.

Keakraban lalu terjalin diantara mereka berdua. Kendati Bee tak bisa bersuara serta amnesia. Bumblebee yang begitu polos dan harus beradaptasi dengan kehidupan di bumi, membuat Charlie harus mengajarkan berbagai hal pada Bumblebee.
Mereka saling bantu, saling support, dan saling membutuhkan satu sama lain. Charlie sangat menyayangi Bumblebee layaknya saudara, begitupun sebaliknya.

Ini semakin terlihat saat keberadaan Bee ini tercium pasukan Amerika yang sudah terpengaruh oleh fitnah dari 2 robot Decepticons: Shatter & Dropkick.
Berdua dengan temannya, Memo, Charlie menolong saat Bumblebee ditangkap para musuhnya tadi.

Singkat cerita mereka bertiga bekerjasama dalam membantu Bee melaksanakan misinya.

Salut untuk penulis naskah Christina Hodson, yang membuat kisah Charlie dan Bumblebee sungguh mengena di hati dan memberikan warna baru di franchise film Transformers.


SPECIAL EFFECT & SINEMATOGRAFI
Tentu nggak diragukan ya, special effect untuk film besar dari studio besar seperti Paramount Pictures, yang rela menggelontorkan uang senilai 100-137 juta dolar.
Wah, kalau dirupiahkan berapa tuh.. kalau kursnya 14 ribu/dolar, berarti senilai sekitar 1,9 TRILYUN! Wow.. !!!

Apalagi ini masih berhubungan dengan film2 Transformers yang efeknya dahsyat gila2an itu. Sudah jelas, special effect Bumblebee pasti juara juga.

Dan memang demikian.
Misal seperti detail body logam Bumblebee maupun robot lainnya, begitu rumit dan nyata seperti benar2 robot asli dan bukan CGI. Pergerakannya yang luwes, warnanya yang menyatu dengan lingkungan sekitarnya dan tidak terlihat seperti tempelan, adegan peperangan yang dahsyat mendebarkan dengan roket dan bom berdentum-dentum.. ya seperti kualitas film kelas 1 lah ya. Sempurna, bisa dibilang.

Oleh sebab itu saya lebih tertarik untuk membandingkannya dengan film2 Transformersnya sutradara Michael Bay.
Bagus mana? Sama sih bagusnya.
Lalu kalau sama, saya lebih suka mana? Yakin saya jawab, saya lebih suka Bumblebee.

Kenapa?
Seperti saya bilang di awal, dan mungkin kamu juga sependapat dengan saya, bahwa film2 Transformers terdahulu itu, khususnya 3 film terakhir, itu.. bombastis kalau saya bilang.
Berlebihan. Bom-bom berledakan dengan begitu banyak dan begitu dahsyat, pertarungan di tengah kota yang riuh!.. menghancurkan ribuan gedung tinggi.. bongkahan beton berseliweran sana sini. Pesawat-pesawat robot yang terbang berseliweran.. Dsb..
Lalu jalan cerita yang cepat, membuat kita keteteran kalau meleng sedikit aja,
Aksi dan tindakan para pemeran yang juga cepat, baik itu agen2 pemerintah maupun tokoh utama, sehingga meminimalkan sisi manusiawi dari kisah itu.

Dengan kata lain, menurut saya seolah2 film2 transformers terdahulu itu lebih menonjolkan kehebatan teknologi modern. Serta betapa superpowernya pemerintah Amerika.
Itu: 2 hal yang dominan di semua film Transformers.

- betapa menakjubkannya teknologi para bangsa robot
- betapa cekatannya organisasi pertahanan negara dalam menghadapi serangan musuh
- betapa hebatnya para serdadu Amerika
- sampai: betapa cerdas, berani dan luhurnya karakter seorang remaja Amerika, yang di usia sangat muda dipercaya oleh pimpinan bangsa alien dalam membantu misi mereka dan menyelamatkan bumi.

Itu yang dominan, sehingga entah disadari entah tidak oleh Michael bay cs., bahwa unsur dramanya justru kurang kuat. Maksudnya, drama yang terjadi antar pribadi menjadi kurang kuat, kurang menyentuh. Ini paling saya rasakan di film ke 3 Dark of The Moon.
Saat nonton, saya memang kagum atas efek2nya, tapi sekaligus juga pusing atas visual yang terlalu ramai itu.

Nah di Bumblebee ini, syukurlah, hal itu tidak terjadi lagi.

Visual Effect masih special, tapi drama juga kuat.
Kisah kedekatan antara Charlie dan Bumblebee sangat menarik dan menyentuh. Bagaimana Charlie yang bersedih atas kematian ayahnya dan kemarahannya pada sang ibu yang menikah lagi, sedikit demi sedikit terbangun lagi keceriaannya setelah berinteraksi dengan si robot kuning itu. Dan mengetahui masalah yang dihadapinya.
Bagaimana rasa sayang antara kedua karakter itu tumbuh, semakin kuat dari hari ke hari lewat peristiwa-peristiwa kecil, sampai perjuangan Charlie dan rekannya membebaskan Bee dari siksaan musuh.
Dan pada akhirnya setelah gemuruh konflik itu mereda, Charlie bisa lebih menerima kematian ayahnya dan mengerti pilihan ibunya, serta ikhlas menerima kepergian Bee.

Begitu.
Jadi antara drama dan visual effect tak jauh porsinya. Satu sama lain mendukung dengan porsi yang pas. Tetapi bagi kalian yang kangen dengan adegan penuh aksi, nggak akan terlalu kecewa, karena meski tak dominan, adegan pertempuran antara Bumblebee dan para decepticon tetap tersaji dengan seru.
Itu menurut saya.

Untuk sinematografi dan visualisasi Bumblebee bisa dibilang sangat bagus. Detail CGI seperti ekspresi wajah Bumblebee dan proses perubahan bentuk para Transformers dari mobil menjadi robot dan sebaliknya terlihat lebih detail dibandingkan film-film Transformers sebelumnya.  


MUSIK & LIFESTYLE
Disebabkan film ini mengambil latar cerita tahun 1987, otomatis semua elemen pendukung juga disesuaikan dengan era 80an. Gaya busana, musik, film, mobil dsb. Berhasil membuat penonton masuk menikmati era itu. Untuk musik antara lain ada lagu dari Rick Astley dan band rock The Smiths,  dimana itu semua berasa pas, catchy, untuk didengar mengiringi adegan-adegan yang disajikan di film.

KEUNGGULAN & KEUNIKAN FILM
ü Yang pertama, adalah yang saya jelaskan tadi ya. Yaitu bahwa ceritanya lebih menyentuh.
ü Yang kedua, adegan laganya tak dipenuhi special effect berlebihan
ü Yang ketiga, adalah bahwa kisah film ini lebih berfokus pada beberapa karakter saja.
Ini menurut saya strategi yang baik ya, sebab cerita menjadi lebih fokus pada inti dan pesan yang ingin disampaikan. Jadi tidak seperti beberapa film Transformers sebelumnya yang selalu menghadirkan begitu banyak karakter sehingga selain range cerita terlalu lebar, juga membuat film terasa terlalu riuh.
ü Yang kelima, film ini cukup ramah anak. Tak ada adegan sadis atau kata-kata yang kelewat kasar, juga karakter para tokohnya yang lebih bisa dijadikan role model. Mungkin para filmmakernya teringat bahwa Transformers itu sejatinya film anak-anak, jadi harus dibuat dengan lebih elegan, lebih humanis dan perlu diselipi unsur humor.
ü Bicara mengenai humor, hal ini juga menjadi keunggulan lain film ini. Tokoh pemimpin militer yang diperankan John Cena, apalagi Memo yang diperankan Jorge Lendeborg Jr., cukup bisa memancing tawa kita dengan celotehan mereka. Juga si Bumblebee itu sendiri. Bagaimana dia berusaha menyamankan diri di rumah Charlie yang pada akhirnya justru membuat suasana rumah menjadi berantakan disebabkan ukuran tubuhnya yang sangat besar, atau saat transformasinya menjadi robot membuat Charlie bermandi pasir, cukup menyegarkan film ini.

KESIMPULAN
Berdurasi 113 menit, film Bumblebee ini terasa lebih baik dibanding pendahulunya.
Lebih humanis, lebih tenang, lebih dewasa dalam pesan2 yang hendak disampaikan, tapi sekaligus lebih cocok untuk semua umur.
Menurut saya pribadi, Bumblebee adalah film terbaik dari film2 Transformers sebelumnya.


Jumat, 14 Desember 2018

Review Film MORTAL ENGINES

Halo.. selamat datang di Fakta Film.
Kali ini saya akan membahas mengenai film Mortal Engines, yaitu sebuah film bergenre science fiction adventure movies, keluaran dari Universal Pictures.
Film ini disutradarai oleh Christian Rivers, yaitu seorang ahli visual effect yang sering bekerjasama dengan sutradara Lord of The Rings, Peter Jackson.

Peter Jackson disini juga ikut berperan, yaitu sebagai produser sekaligus penulis skenario bersama 2 rekannya yang dulu sama-sama menulis The Hobbit, Fran Walsh & Philippa Boyens.

CERITA
Latar kisah film ini adalah suatu masa beberapa ratus tahun di masa depan, sesudah terjadinya perang besar antara kerajaan Amerika & Cina, perang 60 menit. Begitu hebatnya dampak perang ini bagi peradaban manusia, sehingga di masa itu gedung-gedung dan perumahan yang berpijak pada tanah menjadi sangat langka didapati. Tanah telah tercemar sehingga beracun. Akibatnya, kota-kota kemudian dibangun diatas roda atau melayang dengan balon di udara. Benar-benar bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Bisa dibayangkan, betapa luar biasa besarnya kota diatas kendaraan tersebut. Melihatnya membuat kita merasa kagum, sekaligus ngeri. Seperti melihat monster raksasa.

Bervariasi ukuran kota-kota itu, ada yang besar dan kecil. Saling memangsa satu sama lain, disebabkan saling berebut sumber daya untuk bertahan hidup. Satu yang terbesar adalah kota London. Di tokohi oleh Thaddeus Valentine yang jahat, kota ini kerap memangsa kota kecil. Cara memangsanya epik sekaligus menakutkan: pihak kota London menembakkan rantai raksasa ke kota kecil, lalu menarik kota itu kedalam perutnya. Mirip binatang predator melahap mangsanya. Warga kota itu lalu dipekerjakan sebagai pekerja dengan kasta terendah disana. 

Tokoh protagonis yang muncul adalah seorang wanita muda dengan bekas luka tergores panjang di wajahnya, Hester (Hera Hilmar). Memendam dendam atas kematian ibunya, Hester berusaha membunuh Thaddeus. Selain itu ada Tom (Robert Sheehan). Tom ini adalah seorang pemuda London yang semula hanya tinggal di kampung halamannya saja, tanpa kakinya pernah menyentuh tanah. Pertama kali ia tahu mengenai perangai buruk Thaddeus adalah saat ia dilempar jatuh ke luar kota oleh pria itu, padahal ia telah melindungi Thaddeus dari upaya pembunuhan oleh Hester. Berdua mereka lalu berjuang bersama, menjadi bagian dari perjuangan melawan Thaddeus  

SPECIAL EFFECT
Dahsyat!
Berangkat dari kisah novel yang idenya sendiri sudah dahsyat, yaitu kota-kota nomaden diatas roda-roda tank berukuran luar biasa besar, sutradara Christian Rivers seolah menemukan taman bermainnya di film ini. Sebagai ahli visual effect yang aktif berkomunikasi dengan produsernya yang juga sutradara film-film science fiction adventure, ia sukses memimpin timnya menghasilkan sebuah tontonan dengan visualisasi yang menakjubkan. 
Misalnya, saat jajaran kota bergerak melintasi sabana, tampak begitu megahnya. Lalu visualisasi keindahan Airhaven, kota persinggahan di antara awan, sukses disajikan dengan begitu detailnya. Salah satu adegan yang paling luar biasa adalah saat London mengejar kota tambang kecil di babak awal. Betul-betul penuh keseruan dan detail yang memesona, membuat momen ini terasa sangat berkesan. 2 jempol layak diberikan untuk Christian Rivers, yang memang udah berpengalaman dalam menyajikan visual memesona, seperti yang ditampilkan pada trilogi The Lord of the Rings (2001-2003) dan The Hobbit: An Unexpected Journey (2012).

ANALOGI
Menonton kehidupan diatas roda yang mengagumkan namun menakutkan ini, dimana pihak yang kuat seperti London selalu haus kekuasaan, nampaknya seperti menganalogikan apa yang sedang terjadi antara negara di dunia saat ini. Mungkin dimaksudkan sebagai kritik atas konflik antara kekuatan lama seperti barat yang dengan keangkuhannya berusaha menguasai negara timur dengan berbagai cara. Nggak tahu sih ya maksud penulis sebenarnya, tapi kalo saya sih menangkapnya begitu.


KRITIK
Dikutip dari situs Internet Movie Database (IMDb), “Mortal Engines” mendapat rating sebesar 8.1 dari 10.  Walaupun demikian, ada beberapa hal yang bagi kami agak mengganjal:
Pertama, bahwa keindahan visual film ini tak sebanding dengan kekuatan ceritanya.
Bisa dibilang tak ada drama yang cukup untuk membuat penonton masuk ke dalam kisahnya.
Nampaknya ini disebabkan oleh kualitas penulisan yang baik. Hasilnya, film ini jadi pincang dalam urusan perkembangan karakter dan chemistry antar pemainnya. Agak sayang untuk film yang kemungkinan besar akan memiliki sekuel di masa depan.

Selain itu, aksi dan efek visual yang begitu dominan tanpa drama yang cukup kuat ini cenderung membuat mata dan pikiran menjadi lelah. Ini mengingatkan kami akan pengalaman serupa saat menonton film Transformers: Dark of the Moon dulu. :-( Bukankah sebenarnya, cerita antar manusia yang lebih menyentuh hati & pikiran kita?

Salah satu hal lain yang bagi kami cukup mengganggu adalah, bahwa penonton seolah dipaksa untuk mencermati latar belakang dari sekian banyak karakter di film ini. Resikonya bila kita tak konsentrasi dalam menonton, kita bisa bingung akan tokoh-tokoh yang menurut kita seolah tiba-tiba muncul. Alangkah baiknya menurut kami, bila durasi yang berharga itu dipakai untuk fokus pada kisah beberapa tokoh utama saja sehingga drama antara mereka bisa terbangun dengan lebih baik.

Tentang ending, Mortal Engines kurang menampilkan ending yang mengejutkan. Bagi kami, sudah tertebak sebelumnya. Kendati begitu kami bisa memakluminya. Selain bahwa membuat ceita dengan twist mengejutkan itu tidak mudah, harap diingat bahwa film ini adalah sebuah kisah yang menjadi bagian dari sebuah trilogi. Bisa jadi ini sudah direncanakan sang penulis novelnya, sebagai bagian dari dramatisasi perjalanan cerita yang diarahkan ke twist besar di akhir trilogi. Siapa tahu?
Selain itu sebenarnya, bila kisah drama sudah tergarap dengan baik, tanpa twist di akhir pun film ini tetap menjadi tontonan yang memuaskan.
well, semakin pintar, penonton semakin tak mudah dipuaskan. Tapi lepas dari segala kelemahan, saya sih maklum bahwa nggak udah bikin twist.
 film ini masih menyajikan tontonan yang cukup menghibur. Pertempuran melawan kota raksasa berhasil disajikan dengan penuh ketegangan.

Dengan bujet 100 juta dolar, sanggupkah Mortal Engines melebihi kualitas & kesuksesan Lord of The Rings & The Hobbit? Menurut kami, melebihi belum. Baru mendekati.. :)

Tapi, itu semua pendapat kami semata. Silahkan tonton di bioskop untuk mendapatkan pendapat Anda sendiri. :)

Terima kasih telah membaca.
Sampai jumpa di artikel kami berikutnya..